Kamis, 11 April 2013

AKU CINTA.....




Entah mengapa, akhir-akhir ini aku sering kangen sama dia. Rasanya aku kena virus kangen dech. Dan hari ini (5 maret 2013) aku mendapat satu kalimat yang benar-benar mengena ke diriku. Dosen semantikku mengatakan, “orang paling bodoh di dunia adalah orang yang tidak mampu negucapkan kalimat AKU CINTA KAMU/ I LOVE YOU ke pada orang yang kita sukaI”.
Hari ini aku baru menyadari kalau aku orang yang lemah soal kejujuran mengenai perasaanku. Dan perasaan suka ini hanya untuk lawan jenis yakni kaum adam.
Dosenku tadi memintaku untuk bercerita tentang kalimat AKU CINTA KAMU/I LOVE YOU, tapi aku Cuma senyum aja, apa yang akan aku ceritakan berkenaan dengan kalimat itu? Hal ini hanya untuk lawan jenis kita atau lebih ke arah pacar. Sementara aku tidak pernah punya pacar. Hahahhhahah lucu yach, katanya jaman sekarang gak punya pacar? Gak gaul dech!! Huuuuffft mau baghaimana lagi. Inilah aku!
Ingatanku kembali ke semester 4 lalu, bagaimanaa sahabat ku memintaku untuk menjadi kekasih or pacar gitu dech..  Sebenarnya berat untuk menceritakan hal ini lagi, aku suka sedih kalau lagi ingat masa-masa itu. Tapi hari ini mau tak mau aku terbawa ke suasana semester 4 lalu.
Aku tak sanggup mengatakan “ Ya, aku juga cinta sama kamu”. Karena aku telalu kritis dalam berfikir. Bagaimana tidak, terlalu banyak resiko yang harus aku pertimbangkan sebelum aku memberikan jawaban.
Konsekwensi yang harus aku terima andai dulu aku menerimanya:
1. Kalau putus gak akan bisa bersahabat lagi.
2. Kalau lagi marahan akan malas kuliah.
3. Akan jeles or cemburu kalau dia dekat dengan cewek-cewek lain.
4. Kalau sudah tidak sejalan akan ada benci.
5. Kalau aku menerimanya, berarti aku melanggar komitmen diriku.
6. Dan masih banyak lagi…..
Dan Alhamdulillah semua itu tidak terjadi.
Tapi yang parah saat itu adalah :
1. Dia cuekin aku.
2. Aku cuekin dia.
3. Aku eneg lihat dia di kampus.
4. Aku malas untuk ikut diskusi kalau ada dia di depan.
5. Berusaha menjauhi dan menghindari bertatap muka dengannya.
6. Lebih  banyak diam.
7. Sakit hati rasanya kalau dia berduaan dengan tuh cewek di kelas.
8. Muak lihat wajahnya kalau lagi bercanda dan berdua-duaan di kelas.
9. Aku jadi sering uring-uringan sendiri
10.         Masih banyak lagi…..
Belum genap 2 bulan aku tidak bisa menerima tawarannya untuk menjadi pacarnya. Tapi aku mengijinkannya untuk mencintaiku. Jawabnku saat itu kurang lebih seperti ini:
“ Kalau kita jodoh, pasti kita akan bersatu. Aku tidak bisa menjadikanmu pacarku karena kamu sahabat ku. Aku tidak mau persahabatan kita akan rusak andai aku menerimamu dan kita putus. Tidak selamanya cinta itu harus diungkapkan dengan kata-kata, kamukan dapat melihatnya dari sikap aku selama ini sama kamu”.
Karena dia meninggalkan aku dan bersama dengan wanita lain di depan mataku telah merubah paradigma ku terhadapnya. Aku menganggapmu sebagai lelaki yang mudah jatuh cinta dan itu hal yang sangat bertolak belakang denganku. Aku adalah tipikel  yang susah banget jatuh cinta. Saat aku sedang mencari dan mengolah hatiku untuk mencari tau apakah aku mencintaimu. Kamu telah pergi meninggalkanku dan kejadian itu adalah hal yang paling menyakitkan selama aku dekat denganmu.
Andaikan dulu aku menerimamu, akankah saat ini kita masih dapat dekat seperti sekarang? Suatu pertanyaan yang tidak dapat aku tebak jawabannya. Yang jelas semua itu telah aku jadikan pelajaran yang paling berharga dalam kehidupanku kedepannya. Kalau cinta ungkapkan saja, jangan sampai nantinya kita yang akan menyesal.
Biarlah semua itu menjadi cerita kita di hari yang akan datang. Banyak mengatakan kalau kita akan berjodoh. Hahahhah benarkah itu? Aku sich Cuma bilang “ kalau jodoh aku akan menyambutnya dengan senyuman dan bersyukur kepada Allah, tetapi jika tidak jodoh apa hendak dikata, berarti aku tidak diciptakan untuknya dan dia tidak diciptakan untukku. Mungkin Allah telah menyiapkan orang yang lebih tepat untuk kami”.
Tetapi kalau di tanya hati kecilku sebenarnya entah ego atau apalah namanya.. “ AKU MEMANG MENGHARAPKAN HAL ITU” hehehehehh tidak salah dunk membuat mimpi kehidupan…
Aku hanya bisa mengucapkan terimaksih kepada dosen ku hari ini. Semoga aku bisa menjadi orang yang lebih open lagi terhadap perasaanku dan lebih mengerti keinginan orang-orang yang mencintaiku. Melalui tulisan ini akan aku coba mengatakan hal itu…
……AKU CINTA KAMU OR I LOVE YOU SEBAGAI SAHABATKU………..






SAKITKAH AKU



Sakitkah aku?????
Lukakah aku?????
Pernahkah KAU pertimbangkan semua itu??
Aku merasakan kau adalah salah satu sumber cahaya kesemangatanku dalam menjalani hidup ini…
Aku sakit saat kau tak menghiraukanku.
Aku sedih saat kau tak memperdulikan aku.
Dan AKAN lebih sakit lagi,,, KALAUNkau lebih percaya mereka dari pada aku sahabat mu!!!
Aku merasa asing jika kau bersikap seperti itu, ingin rasanya aku menangis, meluapkan semua rasa kecewa ini. Tapi, air mataku tak sanggup lagi mengalir di kedua pipiku..
Terbersit keinginan untuk melepaskan dan menganggap mu sama dengan yang lain. Ternyata aku tidak sanggup melakukan semua itu. Kau tetap yang teristimewa dalam hidupku, jauh bandingannya dengan mereka dan tidak dapat di nilai dengan apa pun. Karena hanya hatiku yang merasakannya!!

SEDIH




4 januari 2013 (23:46)                     
Ya Allah... aku telah membuatnya menjatuhkan air mata. Sahabat seperti apa aku ini???? Pantaskah aku disebut sebagai sahabat?? Mungkin tidak!!! Aku terlalu naif untuknya....
Tidak ada maksud untuk membuatnya menangis,,tidak sama sekali. Aku juga tidak tau, kalau kata-kataku adalah penyebab ia menangis...aku juga sedih.
Mengapa kita harus ribut berselisih  paham dan pendapat karena orang lain... yang pada akhirnya kita yang rugi,,,apa mungkin itu karena kita berbeda dari teman-teman yang lain.
Satu kata malam ini yang sudah pernah aku dengar “ latar belakang kita berbeda “ oke,,semua kita memiliki latar belakang yang berbeda. Namun aku tidak pernah menjadikan itu pembatas untuk kita bersahabat. Malam ini aku juga sama sepertimu “menangis batin”. Satu hal yang harus kamu ingat sahabatku “aku tidak pernah melihat latar belakangmu, yang terpenting untuk aku adalah bagaimana dirimu sekarang”,,untuk menjadi sahabat bukan latar belakang yang terpenting,,tetapi kepercayaan kepada sesama.
Ya,,aku memang tidak terlalu banyak tau tentang latar belakangmu, karena kamu tidak mau membaginya denganku. Tidak masalah, aku yakin kamu bisa menyelesaikan masalah kecil ini, karena masalah besar saja kamu bisa menghadapinya!!!
Aku menyadarinya,,,,tapi aku juga ingin kamu menyadarinya. Sama-samalah kita sadar!! Kamu bilang aku yang terbaik sekaligus yang terjahat di antara teman-teman lain,,oke aku terima itu, karena memang begitu kenyataannya. Dan aku juga merasakan hal yang sama.
Aku menyesal marah malam ini,,,aku menyesal cerewet malam ini..,dan yang paling aku sesalkan adalah menjawab telphonmu malam ini. Andai aku tidak menjawab telphonmu malam ini, kita tidak akan begini. Tidak akan ada emosi dan air mata.
Aku tidak memintamu untuk memilih aku atau mereka. Aku tidak pernah melarangmu untuk dekat dengan siapapun. Jangan jadikan aku seolah-olah penentu dengan siapa kamu boleh dekat. Jangan!!
Semua ini terjadi mungkin karena kita belum mengenal satu sama lain dengan baik. Aku sakit kamu bilang aku “angin-anginan”,, aku menangis saat ucapanmu seolah-olah aku yang salah di banding mereka. Jika sahabat aku saja bisa berfikiran demikian bagaimana dengan yang lain,,orang yang lebih tidak mengenalku???
Aku benci suasana seperti ini, aku tidak menginginkan suasana seperti ini...aku inginkan kehangatan dalam bersahabat bukan beku dan dingin serta emosi seperti ini..BUKAN!!
Benci, marah, kesal...iya aku merasakan semua itu denganmu,,tapi itu tidak lebih besar dari rasa sayangku ke kamu!! Jangan bilang kamu tidak berguna dalam hidupku.. kamu salah besar!!! Karena kamu sangat,sangat, dan sangat berguna dalam hidup aku. Dan tidak perlu aku ungkapkan satu persatu ke kamu.
Kenapa aku orang pertama yang kamu kabari mengenai keadaan itu?? Aku juga tidak tau, karena kamu tidak mau memberi tau ku. Padahal ada seseorang yang lebih pantas tau di banding aku. Namun aku tepis semua fikiran negatif itu dari otak dan hatiku. Sampai banyak yang bilang aku kedua tetapi di utamakan, hanya saja saat-saat sedih, kalau bahagia baru dengan yang lain. Sedih aku mendengar komentar mereka tentang hal itu, tapi hati kecilku menahan untuk tidak larut dalam komentar itu. Hati kecilku mengatakan,, “karena aku penting buatmu “ tetapi itu hanya anggapanku saja, benar atau tidaknya kamu yang tau sobat!!
Apa pernah kamu tau,, aku sedih melihatmu seperti itu?? Aku seolah-olah dapat merasakan sakitmu. Tetapi di depanmu berusaha aku menutupi kesedihan dan kekhawatiranku terhadapmu. Karena aku tidak ingin menambah beban di pundakmu. Aku simpan air mataku di depanmu. Tetapi di belakangmu, aku juga sakit,,aku juga menangis,, aku takut kehilanganmu..takut sekali!! Tetapi tak banyak yang dapat aku lakukan untukmu..hanya do’a dan do’a sobat!!!
Aku tidak tau masalah apa yang sedang kamu hadapi sekarang,,,tapi yang jelas aku yakin kamu kuat. Kalau kamu yakin untuk membaginya denganku aku siap mendengar dan memberikan solusi jika dibutuhkan. Tetapi jika kamu tidak yakin tidak apa-apa. Walaupun kita sahabat mungkin ada hal-hal yang sangat pribadi sekali yang tidak perlu aku tau. Aku memahami hal itu.
Aku ucapkan terimakasih sobat,, semua komentarmu aku yakin untuk kebaikanku. Hanya saja kadang-kadang aku merasa itu tidak benar. Maka pahami jugalah aku!! Aku bukan dia, bukan mereka,, karena setiap kami berbeda. Dan aku harap kamu mau memahami itu.
Aku senang, jika kamu sedih orang lain mencemooh atau menghina aku, itu artinya sebagai sahabat kamu sayang denganku!! Tetapi kamu lebih tau bagimana aku sebenarnya, jadi biarkan sajalah mereka dengan hinaan mereka. Tanpa kamu bilangpun aku mengetahuinya sedikit.  Memang benar terkadang jarak kita terlalu jauh,,terkadang aku tidak mengenalimu. Mungkin begitu juga denganmu.
Benar memang kadang lidah tidak sejalan dengan hati. Hatiku bilang ya, tetapi lidah mengatakan tidak. Sebagai manusia itu adalah kesalahan besar dalam hidupku. Benar katamu, bagaimana aku bisa jujur pada orang lain, jika pada diriku sendiri aku tak mampu untuk jujur. Kamu adalah sahabat sekaligus guru dalam hidupku. Guru yang tidak ada batas semesternya. Kamu ada setiap saat aku ingin belajar.
Sahabatku...maafkan aku!!! Aku tidak bermaksud menyakitimu,,,,,, aku tak ingin medengar suara paraumu,,aku juga tak ingin mendengar tangismu... maafkan aku yang banyak lumpuh dalam berkata. Aku tidak ingin kamu pindah,,,aku tidak ingin kamu pergi...TIDAK INGIN!!! Tariklah kata-katamu dulu saat aku hendak pindah, dengan begitu kamu akan tau.
Jika kamu merasa aku tidak pantas lagi menajdi  sahabatmu tinggalkan saja aku. Aku akan coba memahaminya,,itu karena aku tidak baik untukmu!!! Kata-katamu mengandung beribu arti yang tidak aku pahami maknanya....tinggalkan saja aku jika aku tak pantas lagi menjadi sahabatmu!!!
Akan aku coba melepas semuanya, tapi kenangan manis dan pahit bersamamu tidak akan mungkin hilang,,,,semua itu akan tinggal dimemori ku....

HILANGNYA RASA



Karya: Juliana.s (julyhera)
Ke mana perginya rasa simpatiku padamu? Ke mana perginya rasa sayangku untumu? Ke mana perginya rasa –rasa indah itu? Aku berusaha mencari jawaban untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Lelaki yang aku kagumi dari segela hal, kini berputar 360 drajat. Astghfirullah aku hampir membencinya.
“ Sasa, aku putus dengannya,” Leo bercerita padaku tentang kisah cintanya yang kandas dengan pujaan hatinya Rena.
“ Why?
“ Katanya sich orang tuanya tidak setuju karena aku dari daerah pesisir yang menurut orang tuanya orangnya nekatan dan suka main tangan,” terlihat rasa kecewa di mata Leo.
“ Bagaimana mungkin orang tuanya tidak setuju, emangnya kamu udah ketemu dengan orang tuanya?” tanyaku.
“ Belum sich Sa, aku juga nggak tau,” jawabnya.
“ Ya udah la ea… emang dia bukan yang terbaik kali buat kamu,” aku berusaha menyembunyikan kesalku.
“Kamu tinggalin aku dan menjalin cinta denga dia. Saat-saat bahagiamu dengannya kamu melupakan aku. Saat kamu sedih dan diputusin dia, kamu dekat padaku lagi. Karena rasa simpati atas dasar sahabat aku tidak mempermasalahkannya. Walau sebenarnya hatiku tidak ingin kau dekat denganku lagi” inilah kalimat-kalimat yang ingin aku sampaikan, tapi lidahku tidak sanggup mengatakannya.
Suatu ketika Leo menjadikan aku bahan candaan di kelas untuk menyinggung perasaan mantannya yang kebetulan teman satu kelas kami juga. Gak banget dech pacaran satu kelas, beginilah akhirnya saling benci.
“ Jangan pernah jadikan aku bahan untuk membalas rasa sakitmu,” aku marah padanya.
“ Aku tidak bermaksud seperti itu Sa,” katanya.
“ Oke, mungkin kamu nggak sadar. Tapi, sebagai wanita aku bisa merasakan bagaimana perasaannya tadi di kelas,walau dia mantanmu tidak seharusnya kamu bertingkah seperti tadi Leo. Jangan karena dia sudah mutusin kamu, terus kamu nggak peduli dengan perasaannya,” balasku.
“ Untuk apa aku pedulikan perasaannya? Dia aja nggak peduli dengan perasaanku. Di sini aku yang tersakiti Sasa,” katanya membela dirinya.
“Lalu kalau kamu tidak mau peduli dengan perasaannya, haruskah aku yang menjadi bahanmu membalas rasa sakitmu padanya?” aku bertanya dengan marahku. Ya, aku marah. Mengapa harus aku? Padahal banyak teman-teman lain di kelas. Atau dia mau mempermalukan aku.
“ Aku nggak ada niat seperti itu Sa,” katanya.
“ Leo, tebu yang sudah habis manisnya telah kamu buang dan kulit kacang pembungkus kacang yang kamu makan telah kamu buang. Maka tidak perlu lagi kamu memungutnya. Aku adalah tebu yang habis manisnya dan kulit kacang itu, maka jangan  pernah dekati aku lagi untuk hal-hal seperti itu. Please, aku juga punya hati dan perasaan,” panjang lebar aku menjelaskan perasaan kesalku padanya.
“ Ok Sa,, aku minta maaf dan aku janji tidak akan mengulangi itu lagi,” aku terima maafnya dan kami kembali bersahabat seperti biasa. Seolah-olah kami tidak pernah saling marah.
Pernah suatu ketika aku bertanya kepadanya.
“ Siapa sekarang pacar kamu Leo?
“ Ada,,
“ Anak mana?
“ Pendatang, ikut oomnya di sini.
“ Namanya siapa?
“ Ratu..
“ Oh..yang dulu dekatin kamu itu?
“ Ah…kamu ada-ada aja.
“ Kenalin dunk!
“ Gak ah,,gak penting..
“ Lho, ko gak penting sih?
“ Ya, kami juga STJ (status tidak jelas) ne, orang tuanya menyuruhnya pulang.
“ Kamu sayang banget yach ma Ratu?
“ Buat aku Sa, kalau wanita itu mencintaiku dengan tulus maka aku juga akan mencintainya dengan tulus,” katanya saat itu.
“ Good… itu hal yang baik.
Aku tidak pernah peduli bagaimana kelakuannya dengan pacarnya. Walau kata-katanya bertolak belakang dengan kenyataannya sekarang. Dulu ketika dia memintaku menjadi kekasihnya. Aku katakan aku takut kalau aku tidak bisa mengatur waktu dan aku takut kalau aku rusak. Dengan sinisnya dia berkata.
“ Ya lah, kalau kamu melihat model pacaran si Ani, si Caca, si Indah yang selalu keluar malam, jalan sana-sini wajib malam mingguan dan kamisan. Aku tidak seperti itu, tapi kalau sekali-kali keluar makan kan tidak apa-apa,” katanya sok kalau dia manusia paling suci di dunia ini.
Saat salah satu kerabatku yang mengenalnya bertemu dengannya dan pacarnya di suatu tempat santai di kota ini sedang berangkulan mesra. Mengapa tidak aku yang melihatnya langsung? Mungkin Allah tidak mau kalau aku merusak suasana mesranya dengan pacarnya. Andaikan aku melihatnya langsung akan aku katakan, “ oh, begini model pacaranmu!”.
Mengapa aku tidak percaya kata-katanya soal model pacarannya. Mungkin hingga detik ini dia tidak tau kalau aku pernah melihat foto-foto mesranya dengan mantan pacarnya disuatu tempat rekreasi. Foto-foto yang aku lihat telah sedikit merubah penilaianku terhadapnya. Dia sama saja dengan lelaki lain buaya , pantang diberi ayam langsung diembat.
Belum lagi SMS-SMS mesra yang terbaca olehku. Aduh,,,jauh banget dari kata-katanya. “Bukan aku kali yang godain dia, dia tu yang godain aku”. Padahal dari SMS-SMS yang aku baca, bukan wanita tu yang godain tapi dia kali. Emang dasar ea..lelaki bermulut manis.
Tapi semua itu cukup aku simpan dalam hati, tak pernah sekalipun aku mengatakan semua hal yang telah aku lihat. Cukup penilaian itu dalam hatiku. Suatu ketika saat libur kami hendak pergi ke suatu tempat. Sebelum pergi kami sarapan dulu di tempat langganan kami.
“ Eh,,kamu tau kalau Rena sakit?” tanyaku.
“ Tau,,
“ Gak kamu jenguk?
 “ Gak penting tau….
Emang sih, kalau suasana lagi enak aku sering juga godain dia tentang mantannya yang satu kelas dengan kami.
“ Padahal ea Sa, bukan di tempat kami lagi yang terkenal kejam dan suka main tangan, yang terkenal itu di kotanya. Aku kan di desanya,”dia mengungkit sedikit kekesalannya tentang alasan Rena memutuskannya.
“ O….
“ Tapi tuh cewek kurang ajar nggak punya hati seenaknya aja bilang begitu. Padahal sekalipun dia belum pernah ke sana,” katanya jengkel.
“ Ya udahlah……..
Dia pernah bercerita bagaimana kecewanya dan bencinya dia pada Rena yang telah memutuskannya. Tapi sekarang???
Diam-diam dia kembali lagi dengan Rena. Emang dasar ea lelaki. Ludah yang sudah dilepehkannya kini di jilatnya kembali. Munafik banget sih lo Leo. Setelah semua hinaan dan cemoohon yang dia utarakan untuk Rena, dengan mudahnya kini dia kembali ke pelukan Rena.
Oh no… cukup sampai di sini aja Leo. Aku bukanlah sahabat yang berhati emas yang selalu diam dengan tingkahmu yang semakin menjadi-jadi. Beberapa waktu lalu lo juga udah ngecewain aku banget. SABAHAT????? Busyrit… lo gak pantas jadi sahabat aku. Kalau sahabat mestinya lo bisa menghargai aku, jaga perasaan aku seperti apa aku menghargai dan menjaga perasaan lo. Please dech Leo… sabar aku habis buat lo.
Mungkin hal-hal itulah yang telah melenyapkan semua rasa simpati dan kagumku padanya. Terlalu banyak kata-kata manisnya yang keluar dari mulut madunya. Mungkin juga bualannya yang membuat aku bosan atau bahkan muak dengannya. Aku tidak melupakan kebaikan lo Leo, Cuma aku tidak ingin bersahabat lagi dengan lo. Percuma kalau cuma aku yang menganggap lo sahabat aku, sementara lo nggak pernah menganggap aku sahabat lo.
Terkadang mudah merangkai kata-kata indah, tapi sangat sulit untuk membuktikannya. Sudah seharusnya kita berhati-hati dalam berkata-kata. Tak habis ceritaku dengan Leo, tapi sudah ku putuskan untuk menutup lembaran-lembaran bersamanya. Sahabat yang hanya di bibir saja. Aku berharap dia bahagia dengan Ati. Jangan rakus dunk… mau lo taruh di mana Ratu, tiba-tiba saja aku prihatin denga Ratu. Wanita malang yang tidak tau kelakuan kekasihnya.
Leo, kamu memang pernah hampir istimewa di hatiku, tapi kamu sendiri yang telah membuang dirimu dari hatiku. Terimakasih untuk semua yang telah kamu berikan padaku di perantauan ini. Semoga kamu mendapatkan wanita yang sesuai dengan kamu dan kamu dapat meraih cita-cita kamu.
Saat Dian kembali nanti akan aku ceitakan kepadanya semua tentang perjalananku di kota Pekanbaru ini. Tidak sabar menunggu Dian menjemputku liburan semester ini. Ya seseorang yang tidak pernah menoreh luka sedikitpun di hatiku.
Aku pernah berniat untuk mengenalkan Leo pada Dian,tapi sekarang nggak perlu dech… Karena Dian pasti akan marah kalau aku terus bersikap baik dan membuka diri untuk tempat pengaduan dan persinggahan Leo. Lelaki yang tidak punya rasa malu dan tidak tau terima kasih.
Tiba-tiba malam ini aku merindukan sosok Dian di sampingku. Mendengar tawanya dan bercanda dengannya. Hal yang paling membahagiakan bersamanya adalah saat-saat bercanda dan menyantap mie rebus kesukaan kami di tempat Bang Kumis.




Pekanabaru, 7 April 2013
(Mengisi kekosongan waktu dengan menuangkan hobi menulis saya, bagi siapa saja yang membaca tulisan saya ini sudi kiranya untuk memberikan komentar. Insyaallah untuk perbaikan ke depannya. Terima kasih. NB: karangan ini hanya fiktif belaka, apabila ada kesamaan tema ataupun kejadian penulis mohon maaf!)